Jumat, 27 Juni 2008

Beberapa Kewajiban Bagi Para Pencari Ketinggian

1. Kewajiban Terhadap Diri Sendiri

Seorang pemula dalam menempuh jalan ini wajib memiliki akidah yang benar, yang dibawa oleh Rasulullah saw, yang diikuti oleh para sahabat, tabi`in, ulama salaf yang shaleh, dan orang-orang pengikut mereka, yang semua mereka disebut dengan orang-orang Ahlussunah wal Jama`ah.

Ia harus berpegang kepada Al-Qur`an dan Sunnah, mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalam keduanya, serta menjadikan keduanya sebagai sayap baginya untuk terbang menuju Allah SWT.

Di samping itu, ia harus bersifat jujur, dan selalu berjuang sampai ia beroleh petunjuk, bimbingan, perlindungan, dan penghibur dari-Nya, agar ia tidak tersesat dalam menempuh jalan tersebut. Sebab, sungguh banyak Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.....” (QS. Al-`Ankabut [29]: 69).

Seorang ahli hikmah berkata, “Barang siapa yang sungguh-sungguh mencari sesuatu, pasti akan mendapatkannya”.


Kemudian, ia wajib mengikhlaskan niatnya untuk Allah semata, dan berjanji kepada-Nya untuk tidak akan berpaling dari jalan-Nya sebelum sampai pada tujuan. Hal ini dimaksudkan agar selama menempuh perjalanan itu, ia tidak tergoda oleh sesuatu sehingga ia menjadi lupa diri dan lupa terhadap tujuan sebenarnya. Misalkan, dipertengahan jalan ia beroleh karamah (keistimewaan) dari-Nya, ia tidak akan berpaling dari-Nya dan merasa cukup dengan karamah tersebut, lalu menghentikan perjalanannya sampai disitu, padahal belum sampai di tujuan. Ia harus amanah dalam memegang perjanjian ini, sebab pengkhianatannya akan menyebabkannya terhalang dari mencapai tujuannya.

Lain halnya jika ia telah mencapai tujuan, dimana karamah atau keistimewaan yang ia peroleh dari-Nya tidak akan mampu menggagalkannya. Sebab, karamah itu termasuk kepada qudrah Tuhan, sedang sampainya ia kepada Allah juga merupakan qudrah Tuhan, dan sesama qudrah-Nya tidak akan saling menggagalkan. Kenapa tidak! Jika ia sudah sampai kepada Allah, terkadang ia telah menjadi tauladan di muka bumi dan memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain. Kata-katanya mengandung hikmah, dan tindak-tanduknya menjadi `ibrah (pelajaran) bagi orang lain. Perbuatan Allah telah terpantul pada dirinya sehingga orang-orang menjadi kagum kepadanya. Sehingga pada saat itu, memang seharusnya ia meminta karamah kepada-Nya, sebab karamah itu akan dapat melindungi dirinya dan mendatangkan mamfaat yang banyak baginya dalam menambah kedekatannya kepada Allah.

Sikap lainnya yang harus diambil oleh pencari ketinggian adalah tidak berada di negeri atau komunitas yang rusak, serta tidak bercampur dengan orang-orang lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban agama dan orang-orang munafiq, yaitu orang-orang yang dikatakan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang kalian kerjakan, (QS. Ash-Shaff [61]: 2-3) dan “mengaa kalian siruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kalian melupakan [kewajiban] mu sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berfikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

Ia juga harus tidak berlaku bakhil terhadap apa yang ada padanya lantaran merasa sulit mendapatkannya kembali. Ia juga ridha menerima segala kesusahan yang dihadapinya, seperti kekurangan uang, makanan, dan lain-lain, serta celaan orang lain terhadapnya. Jika ia tidak ridha menerimanya, maka boleh jadi Allah SWT tidak membukakan tabir baginya, sehingga ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan dari usahanya itu.

Di samping itu, hendaklah ia tidak menunggu-nunggu datangnya anugrah dari Allah, melainkan senantiasa meminta ampun kepada-Nya atas segala dosa yang telah dierbuatnya, meminta perlindungan kepada-Nya dari terjatuh kembali kepada perbuatan dosa, memohon taufiq-Nya agar berhasil mencapai tujuannya, serta bersedia menaati gurunya yang menjadi wasilah antra dirinya dengan Allah.

Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.
Penerjemah, Abad Badruzzaman & Nunu Burhanuddin;
penyunting Tim Sahara

Senin, 23 Juni 2008

Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan

3. Adab Orang Fakir Dalam Menyikapi Kefakirannya

Seyogyanya orang fakir menyukai kefakirannya sebagaimana orang kaya yang menyukai kekayaannya, dan hendaknya ia berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kefakirannya itu seperti berusahanya orang kaya semaksimal mungkin agar kekayaannya tidak lenyap. Janganlah ia sampai berdoa kepada Allah Swt agar dilepaskan darinya.

Lebih baik ia merasa puas dengan apa yang ada padanya dan tidak berambisi untuk medapatkan lebih dari itu, jika memang yang ada itu sudah cukup membuat dirinya mampu berbuat taat kepada Allah serta terhindar dari kematian. Apa yang ada itu harus ia mamfaatkan, dan tidak boleh ia tinggalkan. Sebab, haram baginya untuk tidak memenihi hak dirinya sendiri, seperti makan, pakaian dan lain-lain. Firman Allah, “dan janganlah kalian membunuh diri sendiri; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’[4]: 29)

Hendaklah ia tidak menyesali nasib yang menimpa dirinya itu, malainkan menerimanya dengan ridha kepada Allah, karena Dia lah yang menakdirkan hal itu baginya. Nikmati-lah kefakiran itu melebihi orang kaya menikmati kekayaannya.

Ia juga harus tegar menghadapi kesulitan hidupnya. Sebab, semakin kurang materi padanya, maka semakin banyaklah kebaikan pada jiwanya, di samping semakin besar pula keberuntungannya lantaran dengan kefakirannya itu akan bisa mengantarkan kapada derajat keshalehan di sisi Allah. Sebaliknya, jika ia menghadapinya dengan berkeluh kesah dan kecewa, berdosalah ia kepada Allah lantaran tidak ridha kepada-Nya, dan haruslah ia cepat-cepat bertobat kepada-Nya serta memohon ampunan-Nya.

Jika ia mempunyai tanggungan (keluarga/anak), maka semakin banyak tanggungannya, semakin kuat jua-lah hendaknya keyakinannya terhadap Allah SWT. Hendaklah ia berhati-hati dari cara-cara yang terlarang dalam mencari kehidupan buat mereka, dan tetap meyakini bahwa janji-janji Allah SWT terhadapnya adalah benar, dimana rezeki mereka itu pasti akan datang kepada mereka, baik melalui tangannya sendiri maupun orang lain. Jadi, ia tidak perlu berkeluh kesah menghadapinya, apalagi sampai menyalahkan Tuhan, melainkan menganggapnya sebagai sebuah ujian dari-Nya, agar ia selalu ingat dan meminta tolong serta menggantungkan diri kepada-Nya. Dan ini amat disukai oleh-Nya, dan ia akan mendapat kebaikan yang banyak karenanya, baik di dunia ini apalagi diakhirat kelak.


Ia juga harus senantiasa optimis dalam menjalani kehidupan ini dengan tetap berusaha semaksimal mungkin. Kewajibannya hanyalah menaati Allah SWT dalam usaha tersebut, adapun mengenai hasilnya serahkan kepada-Nya karena Dia-lah yang tahu apa yang terbaik baginya. Dengan demikian ia tidak akan pernah berputus asa menghadapi kehidupan ini atau menyalahkan diri sendiri dan orang lain.

Di samping itu, ia harus senantiasa bersiap-siap menghadapi ajalnya agar ia semakin ridha terhadap-Nya dan semakin kuat dan sabar menanggung segala penderiataannya. Sebab, dengan mengingat mati, segala ambisi duniawi akan memudar sebagaimana Rasulullah Saw mengatakan, “Perbanyaklah mengingat pelenyap berbagai (ambisi duniawi yang mendatangkan) kenikmatan, yakni kematian.” Ia juga harus bersikap wara` (tidak tamak) sehingga tidak terangsang untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh syari`at. Dengan sikap wara` ini, ia akan selamat dari hal-hal yang dapat merusak agama dan harga dirinya. Orang-orang shaleh berkata, “orang-orang fakir yang tidak wara` pasti terjerumus kepada perbuatan haram, tanpa disadarinya”.

Janganlah ia meminta-minta kepada orang lain kecuali dalam keadaan terpaksa; kalaupun terpaksa, haruslah memintanya sekedar kebutuhannya, tidak lebih.

Jika orang itu memberinya, maka hendaklah ia segera menyadari sebenarnya Allah-lah yang memberinya, sedangkan orang tersebut hanyalah sekedar penyalur saja, yang diberikan amanah oleh Allah SWT untuk menyimpan rezekinya pada orang itu. Sehingga, ia tidak akan mendewa-dewakan orang itu.

Dalam meminta kepada orang lain, haruslah diniatkannya sekedar memberitahuan kepadanya tentang kesusahan yang sedang dialaminya, bukan untuk mengadu atau meminta belas kasihan darinya, karena hal itu hanyalah diperuntukan bagi Allah SWT.

Jika orang itu memberinya, maka hendaklah ia berterima kasih kepadanya. Namun jika ia menolaknya, hendaklah ia bersabar dan mengembalikan urusannya kepada Allah sambilo memohon kemudahan dan kelapangan kepada-Nya; jangan sampai ia membalasnya dengan sikap yang tidak baik, seperti mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar, menampakkan muka masam kepadanya, dan lain-lain. Beginilah sifat yang benar dari seorang fakir.

Kalau ia menghadiri sebuah jamuan makan, maka hendaklah ia mempersilahkan orang lain terlebih dahulu untuk mengambil makanan sebagai penghormatan bagi mereka. Hindari mengucapkan, “Silahkan makan!” kepada orang lain, atau pun ucapan, “Mari makan bersama kami,” kepada tuan rumah. Dan jika ia dipersilahkan untuk duduk disuatu tempat, maka janganlah ia berpindah dari tempat itu.

Saat makan, hendaknya ia tidak mengambil makanan yang terletak jauh dari tangannya, dan jika dituangkan air minum kedalam gelasnya, maka jangan lah ia menolaknya, melainkan menerimanya walaupun seteguk (sedikit). Jangan pula ia terburu-buru untuk menyudahi makannya sementara yang lain masih makan. Dan hendaklah ia tidak menjadikan makan itu sebagai tujuan, melainkan hanya sekedar menopang hidupnya agar ia bisa berbuat taat kepada Allah.

Terhadap sesama orang fakir pun ia harus bersikap baik dan tidak berbuat semena-mena. Janganlah ia sampai menghalangi mereka dari pertolongannya, sekecil apa pun. Dan jangan pula menyuruh-nyuruh mereka demi keperluannya sendiri, melainkan hendaklah ia melaksanakannya sendiri. Jika ia berjanji untuk memberikan makanan kepada mereka, maka janganlah ia menunda-nunda janjinya itu, karena itu akan mengecewakan mereka. Ketika makan bersama mereka, hendaklah ia mempersilahkannya terlebih dahulu sebelum dirinya. Dan banyak lagi adab-adab lain yang harus diperhatikannya, yang cukup panjang untuk dijelaskan semuanya.

Dan disamping itu semua, hendaklah ia menyadari bahwa jika ia benar-benar bertakwa kepada Allah, bersabar atas kekurangan di dunia dan mengerahkan segenap jiwa, harta, dan keluarganya kepada-Nya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larang-Nya, dan menggantungkan dirinya serta berharap kepada-Nya semata, maka sesungguh ia telah berada di dalam kemuliaan, dan dihari kemudian nanti Allah SWT akan menjaganya serta memberi kebaikan yang banyak baginya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan [mereka],” (QS. Yasin [36]: 55) “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin akan diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka,” (QS. At-Taubah [9]: 111) “..... Itulah yang terbaik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah...,” (QS. Ar-Rum [30]: 38) dan, “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-sajdah [32]: 17).

Allah SWT, dalam beberapa kitab-Nya yang terdahulu, berfirman, “Aku menyukai hamba yang merindukan-Ku tanpa berharap apa-apa dari-Ku, sehingga menjadi haknya-lah penjagaan dari-Ku”.

Juga dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman, “Aku telah menjanjikan kepada hamba-hamba-Ku yang shaleh suatu kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh pandangan mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit di hati mereka”. []

Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.
Penerjemah, Abad Badruzzaman & Nunu Burhanuddin;
penyunting Tim Sahara

Selasa, 17 Juni 2008

Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan

2. Adab Bergaul Dengan Orang Fakir

Orang fakir hendaklah lebih didahulukan, baik ketika sedang makan, minum, di dalam sebuah majelis, dan lain-lain. Janganlah sekali-kali merasa lebih baik darinya sehingga bersikap seperti meremehkannya.

Diriwayatkan bahwa Ahmad ibn Isa berkata, “saya telah berteman dengan orang-orang fakir selama tiga puluh tahun, dan tidak pernah sekalipun aku mengucapkan kata-kata yang menyakiti mereka dan tidak pernah terjadi perselisihan diantara kami.” Taatkala ditanyakan sebabnya kepadanya, ia menjawab, “Sebab aku selalu menganggap mereka sama seperti diriku, dan jika bertemu dengan mereka, aku selalu bermuka manis dan ceria kepada mereka. Saya selalu menghormati mereka dan memperlakukan mereka dengan baik.”

Bersikap dengan baik terhadap orang-orang fakir, dan membantu meringankan beban mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, akan mendatangkan berkah dan kasih sayang dari Allah SWT, dan akan menjadikan pelakunya menjadi ahli dalam berkhidmah kepada orang-orang fakir. Sebab, orang-orang fakir yang shaleh adalah keluarga dan kekasih Allah, sehingga membantu mereka berarti membantu keluarga dan kekasih Allah. Sama halnya dengan orang yang menghafalkan isi Al-Qur`an disebut dengan ahli Al-Qur`an, sebagaimana Rasulullah Saw, dalam sebuah sabdanya, berkata, “Ahli Al-Qur`an adalah keluarga dan kekasih Allah. Maka ahli Al-Qur`an adalah orang yang mengamalkan isinya, bukan sekedar membacanya.” Beliau Saw juga bersabda, “tidaklah beriman kepada Al-Qur`an orang yang menghalalkan apa-apa yang diharamkannya.

Janganlah sampai orang fakir menjadi enggan untuk meminjam sesuatu (berhutang) kepadamu.


Jika ia meminjam atau berhutang kepadamu, maka anggaplah itu bukan hutang, melainkan sebagai pemberian saja. Dan janganlah memberitahukan niatmu itu kepadanya pada saat itu juga, melainkan beberapa hari setelah itu, agar ia tidak merasa segan atau malu kepadamu.

Hendaklah pandai-pandai menjaga hatinya dengan menyegerakan keinginannya, tanpa mengulur-ulur waktu sehingga mereka harus menunggu lama. Bersabarlah mendengar keluhannya, dan hadapilah ia dengan cara yang ramah sehingga mereka dapat menyampaikan apa yang ia inginkan. Jangan sekali-kali bermuka masam padanya, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaannya.

Andaikan permintaannya tidak dapat engkau penuhi saat itu, maka janganlah langsung engkau tolak begitu saja, melainkan usahakanlah terlebih dahulu untuk mecarikan jalan keluarnya, jika memungkinkan. Jika tidak, maka pandai-pandailah menyatakannya. Sikap kasar dan masa bodoh darimu hanyalah akan menimbulkan rasa penyesalan pada dirinya lantaran ia telah terlanjur mengungkapkan rahasianya padamu. Ia juga akan merasa terhina dihadapanmu, lalu menjadi benci. Dan boleh jadi saja imannya menjadi lemah karenanya, dimana ia sampai merasa kecewa terhadap Allah SWT yang telah menakdirkan kefakiran terhadap dirinya, dan akhirnya timbul niat-niat yang tidak baik pada dirinya. Engkaupun tentunya akan mendapat dosa juga karenanya, jika memang engkaulah yang menjadi penyebabnya.

Sebaliknya, sekiranya engkau bersikap baik kepadanya, boleh jadi kebaikanmu itu akan mendatangkan mamfaat yang besar bagi dirinya, dimana melalui pertolonganmu itu keadaannya menjadi berubah kepada yang lebih baik, dan itupun merupakan pahala bagimu.

Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.
Penerjemah, Abad Badruzzaman & Nunu Burhanuddin;
penyunting Tim Sahara

Jumat, 13 Juni 2008

Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan

Beberapa Adab Penting Dalam Pergaulan

1. Adab Bergaul dengan Orang kaya

Orang kaya hendaklah dihormati dalam pergaulan, namun disamping itu hendaklah berhati-hati bergaul dengannya demi terjaga kehormatan diri dan agama. Misalnya, janganlah sampai mengharap-harap pemberian darinya, ataupun mengangankan kekayaan yang dimilikinya, dan jangan pula sampai merendahkan diri dihadapannya lantaran kayanya, sebab Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa merendahkan dirinya kepada orang kaya lantaran kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga dari agamanya.”


Jika bertemu dengannya di suatu tempat, seperti di jalanan, di dalam masjid, atau didalam sebuah ruang pertemuan, maka hendaklah bersikap baik kepadanya seperti kepada orang-orang lain (jangan memulia-muliakannya dari orang lain lantaran kayanya).

Dan yang tak kalah pentingnya, janganlah sekali-kali beranggapan bahwa dirimu lebih baik darinya, melainkan anggaplah semua orang – bukan orang kaya itu saja – lebih baik dari dirimu, agar engkau terlepas dari sikap sombong dan takabur. Dan jangan juga sampai meminta-minta kepada Allah agar Dia menakdirkanmu menjadi orang fakir lantara beranggapan bahwa kekayaan itu akan dapat membahayakan dunia dan akhiratmu, sedang kefakiran itu akan lebih utama bagi dunia dan akhiratmu. Sebab, sebagaimana dikatakan, “Barangsiapa yang meminta-minta takdir, maka tidak adalah takdir baginya, dan barangsiapa yang membuat-buat keutamaan, maka tidak adalah keutamaan baginya.”

Orang yang kaya hendaklah berbuat baik kepada orang-orang fakir/miskin dengan cara membantu mereka dengan memberikan sebagian hartanya kepada mereka. Adapun orang fakir, maka hendaklah ia mengosongkan hatinya dari keinginan untuk mendapatkan harta benda seperti orang kaya tersebut, bahkan dari dunia beserta isinya, sebab semuanya itu hanyalah nikmat dari Allah, yang belum apa-apa dibanding dengan nikmat-Nya yang diakhirat kelak.

Diambil dari buku “Wasiat terbesar sang guru besar / asy-Syaikh ‘abdul Qadir al-jilani” dengan judul asli “Al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al-Haq”.
Penerjemah, Abad Badruzzaman & Nunu Burhanuddin;
penyunting Tim Sahara

Senin, 09 Juni 2008

ZUHUD, CINTA ALLAH, CINTA RASUL

ZUHUD, CINTA ALLAH, CINTA RASUL

Allah Swt berfirman, "katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscya Allah mengasihi kalian" (QS Ali `Imran [3]:31).

Ketahuilah, wahai yang dikasihi Allah, bahwa kecintaan hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan ampunan-Nya kepadanya.

Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan kerena Allah, cintanya hanya milik dan kepada Allah. hal itu menuntut keinginan menaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman mengikuti Rasulullah Saw dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada-Nya. 


Al-Hasan Ra berkata, "beberapa kaum bersumpah setia dihadapan Rasulullah Saw, 'Wahai Rasulullah, sungguh kami mencintai Tuhan kami.' Maka turunlah ayat diatas."

Basyar al-Hafi berkata, "aku bermimipi bertemu dengan Nabi Saw. Beliau bertanya'Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allah meninggikan kamu di antara kawan-kawamu?'
"Tidak, wahai Rasulullah," jawabku. Beliau bersabda, Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasehatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut Sunnahku, dan kepatuhanmu kepada Sunnahku." Selanjutnya Nabi Saw bersabda, "barang siapa menghidupkan Sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barang siapa mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga."

Di dalam hadis mahsyur disebutkan bahwa orang yang berpegang pada Sunnah Rasulullah Saw ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian diantara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. demikian disebutkan dalam Syir`ah al-islam.

Nabi Saw berkata, "Semua umat ku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya". Para sahabat bertanya "Siapa yang tidak menginginkannya"? Beliau menjawab, "Orang yang menaati ku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka pada ku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan Sunnah ku adalah maksiat."

Seorang ulama sufi berkata, "Kalau anda melihat seorang guru sufi terbang diudara, berjalan diatas laut atau memakang api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardhu dan sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karamah. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian."

Al-Junayd Ra berkata, "Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali melalui Allah. Jalan untuk sampai kepada Allah adalah mengikuti al Mushthafa (Nabi Muhammad Saw)".

Ahmad al-Hawari Ra berkata, "Setiap perbuatan tanpa mengikuti sunnah adalah batil. Sebagaimana sabda nabi saw, Barang siapa yang mengabaikan sunnah ku, haram baginya syafa`atku." (Tercantum dalam Syir`ah al-Islam).

Ada seorang gila yang tidak meremehakan dirinya. Kemudian, hal itu diberitahukan kepada Ma`ruf al-Karkhi. Dia tersenyum, lalu berkata, "Wahai saudara ku, Allah memiliki para pencinta dari anak-anak, orang dewasa, orang berakal, dan orang gila . Yang ini adalah yang engkau lihat pada orang gila."

Al-Junayd berkata, “Guruku al-Sari Ra jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Dokter yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya kedalam sebuah botol. Lalu, dokter itu melihat dan mengamatinya dengan seksama. Kemudian dia berkata, ‘Aku melihat air seni iniseperti air seni seorang pencinta (al-`asyiq).’ Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tangan ku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sari dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata, ‘Allah mematikan apa yang dia lihat.’ Aku bertanya, ‘Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?’ Dia menjawab, ‘Benar’.”

Al-Fudhayl Ra berkata, “Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai Allah? Diamlah. Sebab, jika engkau menjawab ‘tidak’, engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab ‘ya’, berarti sifat mu bukan sifat para pencinta Allah. Maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu).”

Sufyan berkata, “Barang siapa mencintai orang yang mencintai Allah Swt, berarti dia mencintai Allah. Barang siapa memuliakan orang yang memuliakan Allah Swt, berarti dia memuliakan Allah Swt.

Sahl berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada al-Quran. Tanda cinta kepada allah dan al-Quran adalah cinta kepada Nabi Saw. Tanda cinta kepada Nabi Saw adalah cinta kepada sunnahnya. Tanda cinta kepada sunnahnya adalah cinta kepada akhirat. Tanda cinta kepada akhirat adalah benci dunia. Tanda benci dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”

Abu al-Hasan al-Zanjani berkata, “pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakkur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih dan berdzikir. Sebagaimana Allah Swt berfirman, Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbilah kepadanya-Nya diwaktu pagi dan petang (QS al-Ahzab [33]: 41-42).”

Abdullah dan Ahmad bin Harb bverada disuatu tempat. Lalu, Ahmad bin Harb memotong sehelai daun rumput. Kemudian ‘Abdullah berkata kepadanya, “engkau mengambil lima hal yang melalaikan kalbumu dari bertasbih kepada Maulamu. Engkau terbiasa sibuk dengan selain dzikir kepada Allah Swt. Engkau jadikan hal itu sebagai jalan yang diikuti orang lain, dan engkau mencagahnya dari bertasbih kepada Tuhannya. Engkau bebankan kepada diri mu hujjah (argumen) Allah Swt pada hari kiamat.” Demikian dikutif dari Raunaq al-Majalis.

Al-Sari Ra berkata, “aku bersama al-Jurjani melihat tepung. Lalu, al-Jurjani menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya, ‘mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?’ Dia menjawab, ‘Aku hitung diantara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.”

Sahl bin ‘Abdullah makan setiap lima belas hari sekali. Ketika memasuki bulan Ramadhon, dia tidak makan kecuali sekali saja. Sekali-sekali dia menahan lapar hingga tujuh puluh hari. Apabila makan, badannya menjadi lemah. Namun jika lapar, badannya menjadi kuat. Dia beriktikaf di Masjid al-Haram selama tiga puluh tahun tanpa terlihat makan dan minum. Dia tidak melewatkan sesaatpun dari berdzikir kepada Allah.

‘Umar bin ‘Ubayd tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali karena tiga hal, yaitu shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, dan melayat orang yang meninggal. Dia berkata, ‘aku melihat orang-orang mencuri dan merampok. Umur adalah mutiara indah yang tidak ternilai, maka hendaklah umur itu disimpan dalam lemari yang abadi diakhirat. Ketahuilah pencari akhirat harus melakukan kezuhudan dalam kehiduapan dunia agar cita-citanya hanya satu dan batinnya tidak terpisah dari lahirnya. Tidak mungkin menjaga keadaan itu kecuali dengan penguasaan lahir dan batin.”

Ibrahim bin al-Hakim berkata, “apabila hendak tidur, bapak ku sering menceburkan diri ke laut, lalu bertasbih. Ikan-ikan pun berkumpul dan ikut bertasbih bersamanya.

Wahab bin Munabbih berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa kantuk pada malam hari. Karena itu, dia tidak pernah tidur selama empat puluh tahun, Hasan al-Hallaj mengikat kakinya dari mata kaki hingga lutut dengan tiga belas ikatan. Dia menunaikan shalat dalam keadaan seperti itu sebanyak seribu rakaat dalam sehari semalam.

Al-Junayd pernah pergi ke pasar dan membuka tokonya. Dia masuk, menurunkan tirai, menunaikan shalat empat ratus rakaat, kemudian pulang selama empat puluh tahun. Hasbyi bin Dawud menunaikan shalat dhuha dengan wudhu untuk shalat `isya, maka hendaklah orang-orang Mukmin selalu dalam keadaan suci. Setiap kali berhadas, bersegeralah bersuci, shalat dua rakaat, dan berusaha menghadap kiblat dalam setiap duduknya. Hendaklah dia membayangkan bahwa dirinya sedang duduk dihadapan Nabi Saw menurut kadar kehadiran dan pengawasan batinnya. Dengan demikian dia, terbiasa tenang dalam segala perbuatan. Dia rela menanggung penderitaan, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti (orang lain), dan memohon ampun dari setiap hal yang menyakitkan. Dia tidak membanggakan diri atas perbuatannya, karena bangga (`ujb) termasuk sifat-sifat setan. Pandanglah diri dengan mata kehinaan dan pandanglah orang-orang shaleh dengan mata kemuliaan dan keagungan. Barangsiapa yang tidak mengenal kemuliaan orang-orang shaleh, allah mengharamkannya bergaul dengan mereka. Dan barang siapa yang tidak mengenal mulanya ketaatan, dicabutlah manisnya ketaatan itu dari kalbunya.

Al-Fudhayl bin `Iyadh ditanya, “Wahai Abu `Ali, kapan seseorang bisa dijuliki orang shaleh?” Dia menjawab, “Apabila ada kesetiaan dalam niatnya, ada ketakutan dalam kalbunya, ada kebenaran pada lidahnya, dan ada amal shaleh pada anggota tubuhnya.”

Allah Swt berfirman ketika Nabi Saw melakukan mi`raj, “Wahai Ahmad, jika engkau ingin menjadi orang yang paling wara`, berlaku zuhudlah di dunia dan cintailah akhirat,” Nabi Saw bertanya, “Wahai Tuhan ku, bagaimana cara aku berlaku zuhud di dunia?” Allah menjawab, “Ambillah dari keduniaan itu sekedar memenuhi keperluan makan, minum, dan pakaian. Janganlah menyimpannya untuk hari esok dan biasakanlah berdzikir kepada-Ku.” Nabi Saw bertannya lagi, “Wahai Tuhan ku, bagaimana cara aku membiasakan berdzikir kepada Mu?” Allah menjawab, “Dengan mengasingkan diri dari manusia. Gantilah tidurmu dengan shalat dan (gantilah juga) makan mu dengan lapar.”

Nabi Saw bersabda, “Zuhud di dunia dapat menenangkan hati dan badan. Cinta kepadanya dapat memperbanyak emosi dan kesedihan. Cinta kepada keduniaan merupakan induk setiap kesalahan, dan zuhud dari dunia merupakan induk setiap kebaikan dan taat.

Seorang saleh melewati sekelompok orang. Tiba-tiba dia mendengar seorang dokter sedang menerangkan tentang penyakit dan obat-obatan. Dia bertanya, “Wahai penyembuh penyakit tubuh, dapatkah engkau mengobati penyakit hati?” Dokter itu menjawab, “Ya, sebutkan penyakitnya.” Orang saleh itu berkata, “Dosa telah menghitamkannya sehingga menjadi keras dan kering. Apakah engkau dapat mengobatinya?” Dokter menjawab, “Obatnya adalah ketundukan, permohonan yang sungguh-sungguh, istighfar di tengah malam dan siang hari, bersegeralah menuju ketaatan kepada Zat Yang Mahamulia dan Maha Pemberi ampunan, dan permohonan maaf kepada Raya Yang Mahakuasa. Inilah obat penyakit hati dan penyembuhnya dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Lalu orang saleh itu menjerit dan berlalu sambil menangis. Dia berkata, “Dokter yang baik, engkau telah mengobati penyakit hati ku.” Dokter itu berkata, “Ini adalah penyembuh penyakit hati orang yang bertobat dan mengembalikan kalbunya kepada Dzat Yang Mahabenar dan Maha Menerima tobat.”

Dikisahkan bahwa seseorang membeli seorang budak. Lalu budak itu berkata, “Wahai tuan ku, aku ingin mengajukan tiga syarat kepada anda:
Pertama, Anda tidak menghalangiku untuk menunaikan shalat wajib apabila tiba waktunya;
Kedua, Anda boleh memerintah ku sesuka anda pada siang hari, namun tidak menyuruhku pada malam hari;
ketiga, Anda memberikan kepada ku sebuah kamar di rumah anda yang tidak boleh dimasuki orang lain.”
Pembeli budak itu berkata, “Aku akan memenuhi syarat-syarat itu.”

Selanjutnya dia berkata, “Lihatlah kamar-kamar itu.” Budak itu berkeliling dan menemukan sebuah kamar yang sudah rusak, lalu berkata, “Aku mengambil kamar ini.” Pembeli budak bertanya, “Wahai budak, mengapa engkau memilih kamar yang rusak?” Budak itu menjawab, “Wahai tuan ku, tidakkah anda tahu bahwa yang rusak di sisi Allah merupakan taman?”

Budak itu melayani tuannya pada siang hari, dan malamnya dia beribadah kepada Tuhannya. Hingga pada suatu malam, tuannya berkeliling di sekitar rumahnya, lalu sampai dikamar budak itu. Tiba-tiba dia melihat kamar itu bercahaya, sementara budak itu sedang bersujud dan di atas kepalanya ada cahaya yang tergantung diantara langit dan bumi. Budak itu bermunajat dan merendahkan diri (kepada Allah). Dia berdoa, “Ya Allah, aku memenuhi hak tuan ku dan melayaninya pada siang hari. Kalau tak begitu aku tidak akan melewatkan siang dan malam ku selain untuk berkhidmat kepada Mu, maka ampini aku, wahai Tuhan ku.”

Tuan nya menyaksikan hal itu hingga tiba waktu subuh. Pelita itu menghilang dan atap kamar itu pun menutup kembali. Lalu, dia kembali dan memberitahukan hal itu kepada istrinya. Ketika malam kedua tiba, dia mengajak istrinya dan mendatangi pintu kamar itu. Tiba-tiba mereka menemukan budak itu sedang bersujud dan ada pelita diatas kepalanya. Mereka pun berdiri di depan pintu kamar sambil memandangi budak itu dan menangis hingga tiba waktu subuh. Lalu, mereka memanggil budak itu dan berkata, “Engkau aku merdekakan karena Allah Swt sehingga engkau dapat mengisi siang dan malam mu dengan beribadah kepada Dzat yang engkau mohonkan maaf Nya.” Kemudian, budak itu menadahkan tangannya ke langit dan berkata:

Wahai pemilik segala rahasia
Kini rahasia itu telah tampak
Hidup ini tak lagi kuinginkan
Setelah rahasia itu tersebar


Lalu dia berdoa, “Ya Allah, aku memohon kematian kepada Mu.” Budak itupun tersungkur dan kemudian wafat. Demikianlah keadaan orang-orang saleh, serta para pencinta dan pendamba.

Dalam Zahr al-Riyad disebutkan bahwa Musa As punya seorang sahabat yang sangat dekat. Pada suatu hari, sahabatnya berkata, “Wahai Musa, berdoalah kepada Allah agar aku dapat mengenal Nya dengan makrifat yang sebenar-benarnya.”

Musa As berdoa, dan doanya dikabulkan. Kemudian, karibnya pergi ke puncak gunung bersama binatang-binatang buas. Musa pun kehilangan dia. Maka Musa berdoa, “Wahai Tuhan ku, aku kehilangan saudara dan sahabat ku.” Tiba-tiba ada jawaban, “Wahai Musa, orang yang mengenal Ku dengan makrifat yang sebenar-benarnya tidak bergaul dengan makhluk untuk selama-lamanya.”

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Yahya As dan Isa As sedang berjalan dipasar. Tiba-tiba seorang perempuan menabrak mereka. Yahya As berkata, “Demi Allah, aku tidak merasakannya.”

Lalu `Isa As bertanya, “Mahasuci Allah badanmu ada bersama ku, tetapi kalbumu ada dimana?” Yahya As menjawab, “Wahai anak bibi ku, kalau kalbu merasa tenteram kepada selain Allah sekejap mata pun, niscaya engkau mengira aku tidak mengenal Allah.”

Seorang ulama berkata, “Makrifat yang benar adalah menceraikan dunia dan akhirat, dan menyendiri untuk Maula (Allah Swt). Dia mabuk karena tegukan mahabbah. Karena itu, dia tidak sadar kecuali ketika melihat Allah. Dia berada di atas cahaya dan Tuhannya.” []
 

diambil dari terjemahan Buku Imam Al-Ghazali "Mukasyafah al-Qulub; al-Muqarrib ila hadhrah al-Ghuyub fi`Ilmi al-Tashawwuf," Dar al-Fikr

Mukasyafah al-Qulub "Bening Hati Dengan Ilmu Tasawuf" Imam Al-Ghazali
Penerbit, Marja Agustus 2003

Minggu, 08 Juni 2008

Membangun Komunitas Link Web

Membangun Komunitas Link Web Indonesia

web indonesia



Ada sebuah Filosofi politik yang mengatakan "Tidak ada teman dan tidak ada musuh yang abadi, yang ada adalah kepentingan bersama" . Mungkin filosofi ini yang meng-ilhami perushaan IBM bekerja sama dengan komunitas open source untuk menghadapi dominasi Microsoft dalam aplikasi sever.

Ter-inspirasi dari filosofi itu dan dari membaca dan berusaha memahami masalah link building dari posting Darren Rowse di problogger.net-nya (12 Tools and Techniques for Building Relationships with Other Bloggers) juga dari membaca ebook link building secret yg saya temukan , maka saya mencoba menarik kesimpulan intinya dan mencoba membangun ide untuk mengajak para blogger Indonesia bersama-sama menciptakan suatu komunitas online bagi blogger indonesia , untuk saling mengenal dan membangun suatu kerjasama win and win bukan win and lose (menang dan menang bukan menang dan kalah) dalam hal traffic , untuk menghadapi apa? yah boleh kalau di bilang untuk menghadapi web-web full komersil yang memiliki budged cukup untuk membeli segala fasilitas mendatangkan traffic , atau paling tidak ini adalah suatu cara untuk berkenalan dan saling mengenal dengan para blogger Indonesia yang lain dan kelak bisa kita jadikan Katalog Pribadi Web/Blog Indonesia.



Yap, ini bicara promosi blog , yang saya rasa lebih efektif di banding sekedar bertukar link lalu memasangnya di sidebar sebagai blogroll, karena umumnya pengunjung blog kita tidak melirik sama sekali link-link dalam blogroll kita.

Oke, yang saya maksud di sini adalah menyebarkan posting saya ini secara berantai, karena posting utama akan paling menjadi perhatian pengunjung blog kita.

Yap ini ajakan suka-rela ,silahkan yang tertarik, dan yang tidak abaikan saja, bagi rekan-rekan senior yang trafficnya sudah tinggi juga silahkan jika ingin berbagi bersama, di bawah ini langkahnya: 1.Buat sebuah posting dengan judul Web Indonesia. 2.Copy-paste seluruh isi posting ini untuk isi posting anda. 3.Pada bagian atas kumpulan kode dalam teks area di atas ,masukan url-judul web anda di bawah url-judul web saya dan menambahkan nomor urut setelah web saya, jadi angka nomor urut anda adalah setelah no urut web saya....dan seterusnya secara berantai. 4.Setelah itu abadikan link url posting misalnya di letakan di sidebar, supaya kelak gampang di cari.

Salah satu tujuan utama saya adalah dalam rangka menyebarkan budaya ngeblog, saling mengenal dan membantu traffic bagi rekan2 pemula .

Anda tidak akan saya curangi untuk memasang anchor text atau link web saya atau web lain-nya, tak ada satu link pun yang menuju alamat web atau blog saya atau lain-nya , tapi hanya sekedar alamat dalam bentuk teks untuk saling mengenal. juga logo web indonesia di atas cuma sekedar logo bersama, tak ada link atau keyword yang saya sisipkan.

Dan jika masih ada pemikiran di akali karena web saya ada di urutan atas dari link anda , maka abaikan tulisan ini.

Jika berjalan lancar, saya rasa cara promosi ini tidak kalah efektif di banding berburu link dan mencari RSS submissions sebanyak banyaknya dengan melelahkan, bahkan RSS atau tukar link banyak kemungkinan link anda akan terhapus karena banyak sebab, tapi posting secara umum akan tetap ada sampai kapanpun .

Dan ini bisa menjadi acuan untuk pelacakan hubungan link secara berantai melalui dari mana anda mendapatkan posting ini.

Hasil dari copy-paste dan penyebaran posting ini seterusnya adalah persis seperti isi posting ini dengan daftar link di bawah logo Web Indonesia yang semakin bertambah.

Jika ingin copy-paste kode HTML secara langsung
klik di sini
(paragraf terakhir ini terserah anda mau di ikutkan atau tidak )



Jumat, 06 Juni 2008

"Keseharian"

"Keseharian" adalah blog yang dibuat dengan inisiatif untuk mencatat segala keseharian penulis, entah apa saja bentuknya, dan ini merupakan anak dari blog http://pecintasejagad.blogspot.com atau kloningan dari blog tersebut.

Blog ini lahir pada tanggal 06 Juni 2008 pukul 16:13 WIB di Bandar Lampung. selain itu tujuan dari terciptanya blog Keseharian ialah tidak lain dan tidak bukan untuk meramaikan dunia blogger terutama di indonesia. mudah-mudahan blog keseharian dapat menjadi teman, sahabat, atau lainnya bagi para blogger sekalian. atas perhatiannya terimakasih dan harap maklum.

Heheheheh emang siapa blog keseharian? sok-sok jadi blog penting aja, pakai-pakai diumummin segala, hhahhaha norak lo....... Wah ga masalah yang penting hidup ngeblog dan nulis selalu jaya blogger.........